Iklan Ads

Perkembangan Surat Kabar di Indonesia

Hai Readers, you know surat kabar ? ya.. surat kabar is koran. Koran itu bacaan. nah Surat kabar di Indonesia berkembang seiring dengan perkembangan bangsa Indonesia sendiri yang dapat dibagi dalam beberapa fase, nih fase surat kabar di Indonesia :

Fase sebelum terbentuk negara kesatuan (sebelum 1945):

Ada 33 surat kabar yang diterbitkan terdiri dari 8 surat kabar berbahasa Melayu, 13 surat kabar berbahasa Belanda dan 12 surat kabar berbahasa Cina Melayu.


Isian berita secara umum :
Sangat politis, merupakan wadah pengungkapan aspirasi kaum nasionalis dan hasutan melawan kekuasaan kolonial Belanda.


Fase Pemerintahan Presiden Sukarno :

1945-1955 : Demokrasi Parlemen, 1949 ada 75 penerbitan dengan tirs 413.000 dan pada tahun 1955 menjadi 457 penerbitan dengan tiras 3,5 juta  (saat itu penduduk Indonesia ±85,5 juta jiwa)

Isi berita secara umum :
Kritik terhadap kebijakan-kebijakan presiden, ketidakpuasan atas tindakan militer pasca penyerahan kedaulatan. Persaingan kekuatan politik yang muncul dari partai-partai politik terutama pada proses pemilihan umum pertama tahun1950, dan jatuh bangunnya kabinet.
1957 : hukum yang militeristik diberlakukan terhadap pers seperti; interogasi, penahanan, penutupan penerbitan berlangsung hingga Oktober 1965. Namun menurut akademisi pada masa itu justru merupakan puncak pers Indonesia.


Fase Orde Baru :

289 penerbitan yang terdiri dari 6 jenis penerbitan :
  1. Pers radikal Orde Baru (pers mahasiswa)
  2. Penerbitan  berita-berita politik dan ekonomi (seperti Kompas dengan tiras 522.000).
  3. Militer (harian Angkatan Bersenjata)
  4. Surat kabar nasionalis radikal (harian Merdeka).
  5. Surat kabar Islami ( harian Republika)
  6. Non-potilis/hiburan (Pos Kota, Santana, Inti Jaya).
1966-1997 : Mekanisme kontrol :
  • Kontrol Legislatif; dengan UU pers yang meniadakan sensor dan kebebasan berekspresi walaupun pada kenyataannya susah didapat.
  • Kontrol Institusi ; dilakukan oleh Deppen yang hanya mengijinkan satu organisasi pers (PWI).
  • Kontrol sendiri (swa-kendali) terutama terhadap hal-hal yang dianggap tabu seperti; komunisme, kekayaan keluarga Suharto.
  • Kontrol visa pers begi reporter asing dan larangan berita negatif tentang Indonesia dari pers asing.


Fase Pemerintahan Transisi :

1997-1999: Dibawah pemerintahan Presiden Habibie, SIUPP dipermudah sehingga surat kabar, tabloid dan majalah menjamur.

Isi berita secara umum :
Masih sama seperti fase sebelumnya, hanya liputannya lebih mendalam dan lebih berani.


Fase Periode Reformasi :
Dipelopori oleh Presiden Gus Dur, pers yang demokrasi tumbuh . Namun ketidakstabilan politik , kekerasan sporadic masih menjadi ancaman.

Isi berita secara umum : 
Kebanyakan udah bebas mengkritisi kebijakan pemerintah. Media menjadi perusahaan profit besar. Alhasil melejitkan pengusaha media besar. Sehingga surat kabar kini makin tebal, dan semakin banyak iklan. Kemudian seiring berkembangnya jaringan media yang dimiliki , pengusaha media ini kini mulai beralih menjadi penguasa kebijakan. Sehingga isi berita khususnya di surat kabar mulai terkesan semakin banyak iklan, dan semakin banyak berita di kendalikan .

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Perkembangan Surat Kabar di Indonesia"

Post a Comment