Untuk
melindungi diri dan desa, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka
pada setiap awal
tahun. Hal ini dipercaya
kalo Nian, bakal
memakan makanan yang udah
mereka siapkan, dan gak nyerang
orang atau nyuri
ternak serta hasil panen
lagi.
Kenapa
warna merah yang identik dengan Imlek, bukan warna-warna lainnya? Itu ada
sebabnya readers... Nian
tiba-tiba lari ketakutan, tapi Aku gak akan pernah lari dari kamu ko. Lagi-lagi
gue ngomong sama bantal. Ok lanjut... Nian
lari ketakutan setelah ketemu
dengan seorang anak kecil
yang menggunakan pakaian warna merah. Mungkin Nian punya
phobia sama warna merah kali ya?
Sejak saat itu, penduduk percaya bahwa Nian takut sama warna merah, jadi setiap kali tahun baru, para
penduduk akan menggantungkan lentera,
kalo sekarang sih lebih sering kita lihat lampion dan
gulungan kertas yang warnanya merah juga, lalu diletakanlah di jendela dan pintu.
Gak
hanya itu readers, Mereka
juga menggunakan kembang api, untuk menakuti Nian.
Ah, kembang api, bikin gue inget lagi sama Dia... ha?
Bantal? bukan! Dia ini bukan bantal, Dia adek gue maksudnya, mungkin ada yang
mau jadiin adek gue adek ipar? Ah... ya sudahlah. Adat-adat
pengusiran
Nian ini, kemudian berkembang menjadi perayaan
tahun baru. Guo Nian dalam bahasa Tionghoa "Menyambut tahun baru" yang secara harafiah
berarti "mengusir Nian"
sang makhluk jahat. Usut punya
usut,
perayaan Imlek
atau dalam bahasa Tionghoa disebut dengan sin tjia. Sebenarnya
berawal dari sejenis perayaan yang sering dilakukan
para petani di Tionghoa pada setiap
tanggal satu di bulan pertama awal tahun baru atau tradisi menyambut musim semi, kalo di Indonesia sih musim hujan.
Tradisi
simbolik lainnya yang gue tunggu-tunggu
adalah pemberian angpau. Tau kan angpao?
Please jangan norak, kalo gak tau
juga tanya sama Embah Google. Menurut budayawan Tionghoa
dan Konghuchu,
angpau yang diberikan pada saat imlek
punya makna filosofi sebagai transfer
kesejahteraan atau energi.
Transfer kesejahteraan dari orang mampu
ke mereka yang tidak mampu, dari orang
tua ke anak-anak, dan dari
anak-anak yang sudah menikah ke orang tua. Asyiiik... berarti gue masih dapet angpao
nih...
Mau baca lagi, lagi, lagi ..... imlek di Indonesia & Makassar

Belum ada tanggapan untuk "Sejarah dan Mitos IMLEK"
Post a Comment