Tepat
dua hari setelah bertambahnya usiamu.
Kita pertama kali bertukar kata.
Mengirim pesan, bertemu,
lalu perlahan kamu mengetuk pintu hati ini
secara langsung.
Kau buka dengan Tidak perlahan,
justru membuatku kaget
dengan kemauan mu.
Rotasi bulan,
Rotasi bulan,
berpendarnya fajar,
hingga
bergantinya hari demi hari.
Membuat kita nyaman satu sama lain.
Saat
dirimu berbisik dirimu ingin menjadi seseorang yg betah ada di hati ini.
Sungguh aku kehilangan daya dan berjanji dalam hati,
ingin membuatmu menjadi sosok spesial.
Saat bintang menyalakan sinar redupnya.
Saat bintang menyalakan sinar redupnya.
Aku masih ingat,
Saat bibir
dengan senyum lesung pipi manis itu bergerak mengintai kata.
Menyampaikan visi dan target kita hidup bersama perlahan.
Kemudian suatu
saat harus pupus,
karena kewajiban dan pilihan mu ,
mempersembahkan
surga kepada orang tuamu.
Meski dirimu beranggapan tak ada lagi kesempatan untuk kita.
Meski dirimu beranggapan tak ada lagi kesempatan untuk kita.
Tapi kita masih bisa menghirup udara
dan
berzikir menyebut nama Sang Pencipta para pecinta.
Aku sadar bahwa ini
hanyalah cerita indah yang harus kita lalui bersama.
Walau kau terus menghujam dengan ribuan kata yang menyayat perasaan perlahan.
Walau kau terus menghujam dengan ribuan kata yang menyayat perasaan perlahan.
Meninggalkan segala bentuk pertukaran pesan dengan tanpa alasan.
Namun, bagiku
dirimu yang Meminta tuk melupakanmu,
adalah suatu kemustahilan.
Aku bukan sosok yg meninggalkanmu dalam tangis,
Aku bukan sosok yg meninggalkanmu dalam tangis,
aku masih menjadi orang
yang tetap akan bertahan meski ada luka.
Kaki ku tak bergetar saat kita
bertemu dengan kedua orang tua kita masing masing.
Memperkenalkan niat
kita ,
dan terus menghiburmu
saat kau masih saja terus menyalahkan diri
sendiri
atas kesalahan masa lalumu.
Karena memang beginilah aku.
sosok
sederhana yang pantas untuk kau rindukan.
Masih menantimu menghampiri.
[B]
Masih menantimu menghampiri.
[B]

Belum ada tanggapan untuk "Temu yang Berpisah dengan Rindu"
Post a Comment