Profesor Robert T. Craig, mengidentifikasi tujuh tradisi teori komunikasi. Beberapa pendekatan yang bersifat aktual, yang biasa digunakan oleh para peneliti untuk mempelajari pelatihan dan masalah komunikasi. Salah satu diantaranya :
2. The Rhetorical Tradition (Tradisi Retorika)
Komunikasi Sebagai Seni Berbicara di
Depan Publik
Retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric,
bersumber dari perkataan latin Rhetorica yang berarti ilmu bicara.
Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren dalam bukunya “Modern Rhetoric”
mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau
seni penggunaan bahasa secara efektif.
Kedua pengertian itu menunjukkan
bahwa retorika mempunyai pengertian sempit: mengenai bicara, dan pengertian
luas: penggunaan bahasa baik lisan maupun tulisan. Oleh karena itu ada
sementara orang yang mengartikan retorika sebagai Public Speaking atau pidato
di depan umum; banyak juga yang beranggapan bahwa retorika bukan saja berarti
pidato di depan umum, tetapi juga termasuk seni menulis.
Salah satu tokoh retorika pada zaman
Yunani, adalah Aristoteles yang sampai kini pendapatnya banyak dikutip.
Berlainan dengan tokoh–tokoh lainnya yang memandang retorika sebagai suatu
seni. Aristoteles memasukkannya sebagai bagian dari filsafat. Dalam bukunya
“Retorika” dia mengatakan: “Anda, para penulis retorika terutama menggelorakan
emosi ini memang baik, tetapi ucapan–ucapan anda lalu tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Tujuan retorika yang sebenarnya, adalah membuktikan
maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktiannya. Ini terdapat pada logika.
Retorika hanya menimbulkan perasaan pada suatu ketika, kendatipun lebih efektif
daripada silogisme. Pernyataan yang menjadi pokok bagi logika dan juga bagi
retorika akan benar, bila telah di uji oleh dasar-dasar logika”. Demikian
Aristoteles, selanjutnya ia berkata bahwa keindahan bahasa hanya dipergunakan
untuk empat hal, yaitu yang bersifat:
- Membenarkan (corrective)
- Memerintah (instructive)
- Mendorong (suggestive)
- Mempertahankan (devensive)
Dalam membedakan bagian-bagian
struktur pidato, Aristoteles hanya membaginya menjadi tiga bagian, yakni
pendahuluan, badan,dan kesimpulan. Bagi Aristoteles, retorika adalah the art of
persuasion. Lalu ia mengajarkan bahwa dalam retorika suatu uraian harus
singkat, jelas, dan meyakinkan.
Tradisi retorika memberi perhatian
pada aspek proses pembuatan pesan atau simbol. Prinsip utama disini adalah
bagaimana menggunakan simbol yang tepat dalam menyampaikan maksud. Dalam media
berkaitan dengan proses pembuatan kebijakan keredaksian, merancang program
acara, penentuan grafis. Prinsip bahwa pesan yang tepat akan dapat mencapai
maksud komunikator. Kemampuan dalam merancang pesan yang memadai menjadi
perhatian yang penting dalam kajian komunikasi. Faktor-faktor nilai, ideologi,
budaya, dan sebagainya yang hidup dalam suatu organisasi media atau dalam diri
individu merupakan faktor yang menentukan dalam proses pembuatan pesan. Bahwa
pesan dihasilkan melalui proses yang melibatkan nilai-nilai, kepentingan,
pandangan hidup tertentu dari manusia yang menghasilkan pesan.
Tradisi retorika dapat menjelaskan
baik dalam kontek komunikasi antar personal maupun komunikasi massa. Sepanjang
memberi perhatian terhadap bagaimana proses-proses merancang isi pesan yang
memadai sehingga proses komunikasi dapat berlangsung secara efektif.
Daya tarik logis dan emosional
menjadi ciri khusus teori-teori retorika. Tradisi ini memandang bahwa aktivitas
seorang komunikator diatur oleh seni dan metode. Hal ini didasarkan pada
anggapan bahwa kita itu sangat kuat dan berkuasa. Karena itulah, informasi
memang penting dalam pembuatan keputusan sehingga komunikasi dapat dievaluasi
dan diperbaiki. Adapun varian dari tradisi ini dapat dibagi menajdi beberapa
era yaitu:
- Era klasik, dimana terjadi pertarungan antara dua aliran, yaitu sophis dan filosof yang mana aliran sophis beranggapan bagaimana kita dapat berargumen untuk memenangkan suatu perkara melalui retorika tidak peduli apakah itu benar atau tidak dan berlawanan dengan aliran filosif yang menganggap bahwa Retorika hanya digunakan untuk berdialog untuk mendapatkan kebenaran yang absolute.
- Era Abad pertengahan, dimana studi tentang retorika berfokus pada pengaturan gaya, namun retorika pada abad pertengahan dicela sebab dianggap sebagai ilmu kaum penyembah berhala dan tidak perlu dipelajari sebab agama Kristen dapat memperlihatkan kebenarannya sendiri.
- Era Renaissance, dimana masa ini dianggap sebagai kelahiran kembali retorika sebagai suatu seni.
- Masa Pencerahan, dimana retorika menjadi sarana untuk menyampaikan suatu kebenaran. Hal ini menjadikan retorika kembali menjadi citra yang baik seperti saat ini.
- Era Kontemporer, era ini ditandai dengan pemanfaatan media massa untuk menyampaikan suatu pesan baik secara verbal maupun visual pada media massa.
- Postmodernisme, dimana aliran ini merupakan alternatif yang dimulai dari asumsi dan nilai- nilai acuan yang berbeda, untuk menghasilkan suatu retorika yang berbeda pula.

Belum ada tanggapan untuk "The Rhetorical Tradition (Tradisi Retorika)"
Post a Comment