Iklan Ads

WISATA HATI YANG MEMAKAN KANTONG HATI (1)



Sejarah mengungkap bahwa tanah kota daeng memang telah lama menjadi kota religious. Diantara beberapa agama yang ada umumnya di dominasi agama islam. Sehingga tak jarang kegiatan khususnya peribadatan dilakukan dengan cara islam. Sejak ratusan tahun yang lalu, nenek moyang kita rela menerjang samudera menembus cakrawala, melewati badai, demi memenuhi kebutuhan rohani atau wisata hati.  Perjalanan yang bermakna ibadah dengan mengunjungi beberapa tempat di tanah suci ini biasa disebut umroh. 

Demi masa, Sang Agung pun bersumpah atas nama detik yang berputar. Mengganti matahari berotasi. Terbit dibalik puncak nan tinggi, terbenam dengan indah di pantai losari.

Kini perjalanan ke tanah suci tak se sulit dulu lagi. Masih teringat cerita lama dari orang tua terdahulu. Bahwa para saudagar dan penjelajah harus menguras harta, hingga bertaruh nyawa. Demi satu tujuan untuk bersuci jiwa.

Dan khusus kali ini, saya akan membahas mengenai fenomena yang terjadi di Kota Makassar. Dimana pemerintah kota makassar, memberikan biaya perjalanan ibadah umroh kepada beberapa pejabat lingkungan pemkot, dan sejumlah masyarakat (tertentu). Ini adalah perjalanan dinas yang dibiayai apbd kota makassar, atau wisata hati yang dibiayai oleh rakyat untuk para pejabat dan kenalan pejabat. 

Diolah dari berbagai sumber berita. Biaya perjalanan ibadah umroh di sekretariat balaikota makassar menuai sorotan publik. Pasalnya pemkot makassar memasukkan biaya perjalanan ibadah umroh sebagai perjalanan dinas yang dibiayai apbd kota makassar. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala badan keuangan dan aset pemkot makassar, Erwin Syafruddin. Dirinya keukeuh dalam menilai jika biaya perjalanan ibadah umroh ini diakui sebagai perjalanan dinas.
Pandangan skeptis melintas. Bergerayun gelisah membuai dibalik jiwa jiwa para pengumpul harta yang merelakan sekian persen untuk pajak kepada pemerintah. Lantaran uang yang dikumpul susah payah oleh masyarakat makassar siapapun jua. Mengapa kiranya harus digunakan untuk kepentingan ibadah pribadi ?

Bukan tak setuju dengan ide yang suci ini. Akan tetapi hal ini tentu melejitkan sebuah tanda tanya besar. Mengapa anggaran rakyat bisa di alirkan atas kepentingan satu individu atau kelompok tertentu ?

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "WISATA HATI YANG MEMAKAN KANTONG HATI (1)"

Post a Comment