Masyarakat, insan yang rela membagi sebagian pendapatan demi
kepentingan pembangunan daerahnya ini tentu merasa gelisah. Bilik bilik jiwa
berbicara mengenai kisahnya, Bahwa memberangkatkan 75 orang umroh dengan alasan
perjalanan dinas, dinilai tidak tepat sasaran peruntukan dan tidak wajar oleh
masyarakat Makassar sendiri.
Suara azan sayup sayup terdengar. Terus menerus berbunyi
tidak menyerah memanggil jiwa insan untuk bersyukur atas detik yang
digunakannya atas pemberian yang maha kuasa.
Tuntutan rakyat, akhirnya membuka mata para penyambung lidah
dan hati masyarakat. DPRD mendesak pemerintah kota makassar meninjau ulang
rencana perjalanan umroh yang menggunakan uang rakyat ini.
Adi Rasyid Ali selaku Wakil Ketua DPRD Makassar, menyarankan
agar rencana umroh yang menggunakan dana apbd itu ditinjau ulang. Terlebih jika
melanggar aturan umroh APBD itu harus dibatalkan. Legislator Makassar dua
periode ini juga menyarankana agar komisi D yang membidangi masalah
kesejahteraan rakyat, memanggil pemerintah kota untuk membahas masalah ini.
Hal tersebut patut dilakukan lantaran menurut Adi Rasyid
Ali, Umroh dinilai sebagai perjalanan ibadah yang bersifat pribadi. Sehingga
tidak wajar jika menggunakan uang rakyat.
Berbeda dengan Andi Nurman, Wakil ketua komisi D bidang kesejahteraan
rakyat DPRD. Dirinya mengatakan umroh yang dibiayai apbd ini dikategorikan
perjalanan dinas karena yang melakukan umroh adalah PNS. Hanya saja mengajak
puluhan warga pemenang undian di beberapa kegiatan pemkot.
Andi Nurman yang merupakan legislator partai golkar ini
mengaku tak sepaham dengan tim pengawal pengaman pemerintah dan pembangunan
daerah T4D yang menyatakan program umroh berkedok perjalanan dinas pemerintah
kota tidak tepat sasaran. Sehingga perlu digaris bawahi terdapat suatu hal yang
tidak satu suara, atau satu sepemahaman terkait isu ini.
Gelisah menjelma dibilik-bilik jiwa. Mengapa pemerintah
menganggarkan biaya dari uang rakyat, untuk perjalanan dinas ibadah umroh
segelintir orang. Bahkan pejabat di lingkungan pemerintah itu sendiri. Beberapa
pejabat dinas juga terkesan menyembunyikan informasi ini dari publik atau mata
dan telinga masyarakat.
Tapi kita tentu tidak boleh lupa dan mengurung ribuan kisah
sampai nyaris sesak tak bisa bernapas. Anggaran pembangunan daerah dari rakyat
untuk rakyat haruslah menjadi prioritas.
Meski rentang waktu yang berlarian mengambil menit menit
kita bersama. Mengurai tentang letih yang sering kali singgah dalam panasnya
aspal kota daeng. Hal tersebut pula, membiarkan saya mengeja setiap peristiwa. Melapal
satu demi satu isu dan fakta.

Belum ada tanggapan untuk "WISATA HATI YANG MEMAKAN KANTONG HATI (5 - FINISH)"
Post a Comment