Berbicara tentang produksi budaya media, maka kita juga berbicara tentang
isi dari organisasi media itu sendiri. Termasuk media sebagai sebuah institusi
dan perannya sebagai industri yang bergerak pada bidang penyebaran informasi.
Hal yang terkait struktur sosial internal dari pekerje media, tekanan ekonomis
sosial dengan dunia luar. Unsur tersebut menjadikan konteks media dirasa tidak
pernah statis, tetapi terlihat stabil. Dikarenakan tuntutan pencapaian kekuatan
luat yang menjadi tujuan organisasi.
Belum lagi dengan perkembangan arus konvergensi. Menyebabkan konektvitas
yang luar biasa oleh masyarakat, dan kecenderungan menghindari komunikasi massa
yang lama. Meski dalam beberapa kasus konvergensi, diantaranya membiaskan
kebijakan media. Hal ini diakibatkan beberapa faktor pembanding seperti, antara
professional dan amatir, publik dan pribadi, tetap dan bergerak.
Aktivitas internal organisasi yang memiliki peran terhadap budaya media
diantaranya pemilihan dan pengolahan informasi, rutinitas kerja, kriteria
organisasi (aspek professional dan kepentingan bisnis) , dan pengaruh rantai
penentu keputusan.
Gatekeeping & pemilihan
Istilah gatekeeping telah secara luas digunakan sebagai metafora untuk
menggambarkan proses dimana seleksi dibuat dalam kerja media, terutama
keputusan mengenai apakah dibolehkan atau tidak sebuah laporan berita tersebut
disebarluaskan melalui saluran berita (white, 1950; Reese dan Ballinger, 2001;
Shoemaker et al., 2001). Peran gatekeeping diterapkan pada bidang editorial
baik dalam keperluan produksi media cetak, televisi, agensi penulis, bahkan
penerbit. Fungsinya sebagai filter baik untuk bidang market isi / konten,
membatasi isu yang dapat memicu konflik masyarakat, mengawasi informasi yang
bermuatan kepentingan politik, hegemoni, ideology yang tidak sesuai, dan
lainnya. Akibat peran tersebut menjadikan peran gatekeeping memiliki otonomi
dalam tindakan jurnalistik. Tak jarang dapat disalah guna sebagai tempat
menitipkan kepentingan ekonomi atu politik dari luar.
Kemudian adanya konvergensi yang membuat masyarakat dapat mengakses
informasi demi memenuhi kebutuhannya sendiri dengan memanfaatkan platform
online. Membuat peran gatekeeping seakan mulai luntur atau usang. Meski hingga
saat ini masih banyak media dengan peran gatekeeping masih tetap eksis
diakarenakan masih adanya pihak berkepentingan yang ingin pesan tertentu mereka
menjadi banyak, luas, dan penting bagi publik.
Faktor Ideologis versus
organisasional
Pada dasarnya dalam kantor berita banyak informasi atau jumlah berita
yang terhimpun dan dikirim untuk di kelola. Akan tetapi saat memilah berita
oleh gatekeeper, terjadi sebuah proses yang cenderung mengarah pada karakter
subjektif pemilihan berita, dan otonomi editor berita. Istilah ini kemudian di
kenal sebagai organisasional atau ideologis. Dimana peran penyeleksi berita
dipengaruhi dua faktor tersebut dalam memilah milih berita. Akan tetapi menurut
peneliti menyatakan bahwa tanpa adanya rutinitas tersebut. Maka editor media
tidak memiliki tantangan terhadap konten keluaran medianya.
Terdapat pula konten media yang cenderung konsisten. Semisal saat jelang
lebaran idul fitri tiba, maka arah berita biasanya memuat tentang kelompok
islam yang berbeda tanggal penetapan lebaran. Adanya kelompok islam yang sudah
lebaran terlebih dahulu. Meliput hasil sidang isbat, pantuan hilal dari
beberapa lokasi, meliput kegiatan sholat idul fitri para pemangku kepemimpinan
dan kepentingan. Hampir setiap tahun polanya seperti ini. Hal ini didasarkan
terdapat peristiwa yang sama, kondisi serupa, persepsi yang stabil dalam
menentukan berita apa yang dinantikan khalayak.
Terdapat pula istilah nilai berita. Dimana nilai berita ini bersifat
penilaian individual yang subjektif dan selalu relatif atau dapat berubah
dengan cepat. Berdasarkan studi di sebuah lembaga berita. Terdapat tiga faktor
indikasi yang mempengaruhi nilai berita yakni organisasional, genre, dan sosial
budaya. Faktor organisasional lebih mendekati pada nilai ideologis, semisal
saat pagelaran Indonesia melawan inggris pada olimpiade cabang bulu tangkis di
inggris. Jika terdapat berita yang memuat tentang kekuatan pemain bulu tangkis
Indonesia kala itu, para warga Indonesia akan antusias. Mengenai genre, ialah
faktor minat atau kesukaan masyarakat terhadap suatu program media tersebut.
Jika media tersebut dapat mengetahui dominasi kesukaan masyarakat. Maka media
tersebut dapat membuat program yang sesuai. Begitupun media lain yang dapat
saja membuat program serupa atau program baru tandingan yang berbeda. Kemudian
masyarakat pun beralih ke program baru tersebut. Begitu pula dengan konten
berita masyarakat cenderung menyukai genre yang diharapkan jika bukan masalah
yang dekat dengan areanya (proximity), informasi konflik, dan krisis endemik.
Pada bidang sosial budaya, lebih mengarah kepada fokus berita yang melibatkan
kepentingan kalangan elit, kejadian negatif, dramatis, dan berbau kekerasan.
Meski banyak penelitian mengasumsikan gatekeeping adalah opsi dari para
elit media untuk memberikan informasi yang di inginkan khalayak. Berdasarkan
penelitian terdapat 48% yang menyatakan
bahwa informasi berita yang disampaikan oleh media bukanlah hal yang di
inginkan oleh khalayak. Dengan kata lain terdapat fakta adanya kekuatan dan
sumber institusi yang mempengaruhi agenda berita.
Tahapan selanjutnya :
Perjuangan terhadap akses
antara media dan masyarakat
Pengaruh sumber terhadap
berita
Akses sumber kepada berita
*Ridho Azlam Ambo Asse*

Belum ada tanggapan untuk "PRODUKSI BUDAYA MEDIA : Gatekeeping dan pemilihan"
Post a Comment