Pengaruh terhadap pilihan
berita
Berdasarkan Mangeim (1998) pengelompokkan pengumpulan berita
jurnalistik didasarkan pada dua jenis dominan, dan dua jenis subside. Jenis
pertama ialah pemburu-pengumpul. Pihak ini melihat sekumpulan fenomena sebagai
berita potensial. Informasi yang ia jaring pada umumnya bermuatan tentang area
lingkupnya, dan jaringan sumber yang akrab. Dua jenis yang lain merujuk pada
jurnalisme investigasi dan komersial. Tetapi pihak ini juga berdasarkan asumsi
bahwa berita terjadi secara natural. Lalu, apakah pihak ini yang membuat
fenomena berita adalah cerminan realitas atau justru mendistorsi realitas ?
Menurut Fisherman (1980:3) perhatian utama seharusnya adalah pada
pembuatan berita. Dimana pada prosesnya berita akan terbagi dalam berbagai rute
dan bentuk yang berbeda. Terdapat pola yang membutuhkan perencanaan sistematis.
Maka diperlukan sumber relevansi berita atau pengelola peristiwa (kepolisian,
pengadilan, dinas – dinas, pemerintah,.) . Para agen berita akan mengumpulkan
berbagai informasi. Pilihan akhir kemudian yang akan membahas pada nilai sosok,
tempat, dan waktu. Alasan lainnya ialah mengenai proses ekonomi perusahaan dan
daya tarik khalayak.
Faktor pemilihan Berita :
·
Kekuasaan, status, atau popularitas individu yang terlibat
dalam peristiwa.
·
Kontak personel atas reporter
·
Lokasi peristiwa
·
Lokasi kekuasaan
·
Dapat diperkirakan dan rutin
·
Kedekatan dengan khalayak dari orang-orang dan peristiwa yang
ada di berita
·
Kebaruan dan ketepatan waktu dari peristiwa
·
Pemilihan waktu dalam hubungannya dengan siklus berita
·
Ekslusivitas
·
Keuntungan ekonomi (dari khalayak, sponsor, dan lainnya)
Masyarakat dan pilihan
Pada kasus di Negara barat. Banyak khalayak yang menyukai topik berita
menyangkut figuritas atau mengenai tokoh. Terdapat kecenderungan masyarakat
melihat berita mengenai orang terkenal, politikus, dan pesohor. Semakin
terkemuka orang yang terlibat, maka semakin besar perhatian masyarakat. Hal
lainnya ialah, kisah mengenai pahlawan dan penjahat. Personalisasi kontradiktif
ini dirancang dikarenakan khalayak membutuhkan tokoh yang bermain dalam
peristiwa atau fenomena tertentu. Darisinilah kepentingan antar institusi untuk
mengendalikan opini masyarakat terjadi. Dimana institusi tersebut menuntut
peran baik untuk mendorong simpati dan dukungan khalayak.
Adanya nilai masyarakat disinilah yang mendorong berbagai sumber untuk
membawa agenda mereka kedalam agenda media. Pembuatan berita yang terikat
dengan pihak berwenang tertentu membantu pengaruh suatu kondisi dan pihak
tersebut.
Lokasi dan Pilihan
Pada nilai berita terdapat unsur proximity (kedekatan jarak). Semakin
erat hubungan antara khalayak dengan satu kota, atau Negara. Maka akan semakin
besar berita tersebut diperhatikan. Faktor kedekatan pula dapat mengalahkan
faktor lain seperti kekuasaan hingga karakter intristik suatu peristiwa. Selain itu mengenai lokasi dan pilihan,
terdapat pula hal yang berkaitan dengan objektifitas berita. Dimana untuk
mendulang fakta suatu peristiwa haruslah diambil dari lokasi spesifik untuk mendapatkan
informasi dan analisa dari berbagai sumber terkait. Hingga kemudian terdapat
gagasan mengenai jaring berita (news net) yang dikembangkan oleh Tuchman
(1978).
Jaring berita ialah gambaran alat yang dirancang untuk menangkap berita
seperti ikan dalam skala besar. Nantinya kantor media akan mengidentifikasi
informasi mana yang akan diungkap sebagai berita. Dari faktor tersebut kemudian
muncul istilah agensi berita dan koresponden. Jaring berita pada umumnya
tertarik pada tiga asumsi mengenai kepentingan khalayak. Pertama, mereka tertarik
dengan kejadian yang terjadi pada wilayah lokal tertentu. Kedua mengenai
aktivitas dari organisasi tertentu. Ketiga ialah dengan topik yang spesifik
(Tuchman, 1978: 223, 225).
Jaring berita ini berguna sebagai perpanjangan tangan kantor berita
media. Khususnya dalam mengambil kebutuhan jurnalistik akan suatu peristiwa
pada lokasi yang jauh dan terjadi secara tiba-tiba serta tak disangka. Meski
sebenarnya kantor berita media tersebut dapat mengirim reporternya ke loaksi
kejadian berita. Media tersebut akan melakukan identifikasi terlebih dahulu
mengenai apakah berita tersebut menarik bagi khalayak oleh departemen yang
sesuai dengan konten isi atau jenis berita.
Dimensi waktu dan jenis berita
(Tuchman, 1978)
|
DIMENSI WAKTU
|
|||
Dijadwalkan sebelumnya
|
Tidak terduga
|
Tidak dijadwalkan
|
||
JENIS BERITA
|
Langsung
|
●
|
●
|
|
Ringan
|
●
|
|||
Spot
|
●
|
|||
Berkembang
|
●
|
|||
Berkelanjutan
|
●
|
●
|
||
Waktu dan Pilihan
Unsur waktu memiliki pengaruh yang besar sebagai pertimbangan dalam
pemilihan. Hal yang biasa disebut dengan aktual ini dipengaruhi oleh
perlengkapan teknologi komunikasi yang berfungsi meng-efisiensikan waktu proses
pengolahan berita. Dimana berdasarkan jenisnya pada berita tipe hard news
umumnya berkaitan dengan sistem yang kekinian atau yang segera. Terdapat pula
istilah kategori seperti spot (sangat baru, sangat segera, baru terjadi),
berita berkembang (developing), dan berita berkelanjutan (continuing).
Berdasarkan pola distribusi berita, terdapat jenis berita yang terencana baik
peliputan dan penayangannya. Terdapat jenis berita yang tidak terduga dan perlu
disiarkan segera. Hingga jenis berita soft news yang terencana serta dapat
disimpan untuk ditayangkan kapanpun.
Terdapat pola peliputan dan distribusi berita kepada khalayak yang
digunakan oleh awak media. Metode ini biasa disebut dengan buku harian. Metode
ini ialah bagaimana cara media memandang suatu isu, fenomena, atau peristiwa.
Kemudian meliputnya selain menggunakan sistem hierarki beragam, juga mengukur
tingkat pentingnya berita tersebut lalu menyusun pola penyebarannya. Hasil
pra-strukturisasi makna dan tindakan ini untuk membentuk pengaturan organisasi
dan pola peliputan peristiwa, dan memperhitungkan penafsiran atas
signifikansinya.
Molotch dan Lester (1974) membagi peristiwa kategori paling besar ke
dalam empat macam. Yakni, peristiwa rutin, kecelakaan, skandal, dan kebetulan
(kesempatan). Adapun mengenai peristiwa rutin lebih erat kaitannya pada pihak
yang disebut dengan promotor. Pihak tersebut memiliki akses dekat kepada
pengumpul berita. Berita yang berkenaan dengan promotor akan di intervensi.
Dari situ dapat diketahui bahwa promotor dan pengumpul berita berada pada pihak
yang memiliki kepentingan yang sama serta menguntungkan.
Berdasakan pilihan terdapat istilah berita luar biasa. Istilah itu merujuk
pada jenis peristiwa yang menjadi berita besar tidaak hanya karena skalanya,
ketidakterdugaannya, dan juga kualitas yang dramatis, tetapi juga karena
beberapa tingkatan tidak biasa dari resonasi dan signifikansi publik dalam
melambangkan krisis atau keresahan masyarakat. Selain itu ada istilah mediahype
(Vasterman, 2005: 515). Istilah ini merujuk pada sifat berita yang muncul
mendadak, tak terduga dan berangsur – angsur hilang karena terkesan kurang
faktual. Bertujuan menghasut khalayak agar berita ini dapat berkembang.
Tahapan sebelumnya :
Tahapan selanjutnya :
Perjuangan terhadap akses
antara media dan masyarakat
Pengaruh sumber terhadap
berita
Akses sumber kepada berita
*Ridho Azlam Ambo Asse*
*Ridho Azlam Ambo Asse*

Belum ada tanggapan untuk "PRODUKSI BUDAYA MEDIA : Pengaruh terhadap Pilihan Berita"
Post a Comment