Mengapa agenda syiar LDK jarang diminati civitas
akademika ? Apa yang menjadi pola pikir penghambat khalayak tidak tertarik
dengan agenda syiar ? Mungkin apa yang dilakukan tidak sesuai dengan hal yang
disebut sebagai Filter Konseptual. Apa itu filter konseptual, dan seberapa
pentingkah hal tersebut dengan dampak suksesnya agenda syiar dakwah ? yuk mari
dibaca.
Guys, Perlu diingat bahwa sebelum pesan dakwah
menyentuh dan merangsang individu-individu khalayak (atau kalau di kampus kita
menyebutnya sebagai civitas akademika yang menajdi target dakwah LDK) dengan
tema dan topik tertentu oleh dai atau
mubalig tertentu, maka
individu-individu (mad’u) itu telah
memiliki filter konseptual, yang
menyaring rangsangan dakwah itu. Nah, Filter konseptual itu merupakan
senjata bagi setiap individu dalam menghadapi semua rangsangan, ajakan,
panggilan dan pengaruh yang berasal dari luar dirinya. Oleh karena itu
tiap-tiap individu tidaklah mengalami pengaruh atau ajakan, panggilan dan
rangsangan secara pasif. Bahkan sebaliknya setiap individu memiliki potensi
yang bersifat dinamis atau bahkan kompleks dalam mewujudkan sikap dan
perilakunya sendiri. Hal ini berkaitan dengan konsep teori khalayak kepala batu
dan khalayak aktif.
Filter konseptual yang merupakan pusat kajian
komunikasi dalam perspektif atau paradigma psikologis itu berisi keyakinan,
motif, sikap, dorongan, konsep diri, tanggapan, citra dan persepsi, yang dapat
menjadi daya serap atau daya tangkal terhgadap semua rangsangan yang menyentuh
individu. Unsur unsur tersebut yang membangun filter konseptual, termasuk
tanggapan mereka terhadap agenda syiar (baik event / karya media) juga citra
LDK itu sendiri. Filter konseptual yang dapat disamakan dengan kesadaran “Aku” lahir dari kerangka rujukan (frame of reference) dan lapangan
pengalaman (field of experience)
seseorang. Artinya pesan dakwah itu akan diserap oleh mad’u (atau sebagai komunikan) jika sesuai dengan kesadaaran “Aku”
individu, dan akan ditolak jika bertentangan kesadaran “Aku” individu tersebut.
Oleh karena itu sikap, opini dan perilaku individu itu adalah refleksi saling
bermain antara faktor intertnal dan faktor eksternal (pengaruh dari luar).
Untuk itulah inilah esensi penting mengapa penampilan pertama LDK itu sangat
berpengaruh pada kesuksesan agenda Syiar LDK tersebut selanjutnya. Jika LDK
sukses memperkenalkan dirinya dengan atraktif dan efektif, khususnya dalam
acara pengenalan lembaga pada mahasiswa baru. Bisa dikatakan kemudian hari
agenda Syiar LDK tersebut akan berjalan dengan baik. Karena kerangka rujukan (frame of reference) dan lapangan
pengalaman (field of experience) dari
para mahasiswa/I atau civitas akademika telah terbentuk bahwa LDK Hebat . Akan
tetapi jika LDK tidak optimal atau tidak sukses merancang penampilan pertama
yang baik. Tentu akan bergantung pada minimnya pengaruh LDK , sepinya agenda
syiar , bahkan dapat saja berdampak pada turunnya kaderisasi . Tentu bukan ini
yang kita inginkan.
Perlu dijelaskan bahwa lapangan pengalaman (field of experience) adalah pedoman
individu yang dibuat berdasarkan berbagai hal yang dialaminya sendiri melalui
proses belajar. Segala sesuatu yang pernah dialami sendiri oleh individu,
kemudian dijadikan pedomannya dalam hidup. Sedangkan pengalaman-pengalaman
orang lain yang tidak dialaminya, tetapi menjadi pedoman dalam lingkungan
sosialnya atau masyarakat, yang kemudian diambil menjadi pedomannya disebtu
dengan istilah kerangka rujukan (frame of
reference). Jadi itulah perbedaan antara experience dan reference . Kewajiban kita sebagai seorang Syiar Troopers ialah merancang agar
kerangka rujukan experience dan reference
menyatakan bahwa LDK HEBAT , Wow, dan lainnya. Maka itu tujuan rancangan
menyebar pesan kebaikan tak hanya dalam bataas individu yang sempit, melainkan
meluas. Jika perlu lakukan strategi viral.
Kerangka rujukan merupakan sistem hubungan fungsional
yang terwujud atas interelasi dan interaksi dengan lingkup sosialnya. Dengan demikian
pada diri individu terdapat dua pedoman yaitu field of experience dan frame
of reference, yang menyatu dalam kepribadian seseorang. Hal inilah yang
melahirkan kesadaran “Aku” dan filter konseptual.
Filter konseptual itu menentukan sekali terhadap
penerimaan dakwah yang mungkin merupakan ide atau gagasan baru atau pengalaman
baru yang merangsangnya. Melalui filter konseptual segala hal baru, gagasan
baru dan pengalaman baru dilekatkan. Oleh karena itu bilamana seseorang itu
dirangasang oleh dakwah atau pesan lain, maka segera pesan itu dikonfrontasi
dengan filter konseptual, dan jika sesuai akan diterima dan jika tidak sesuai
akan ditolak. Hal ini dapat dipahami karena manusia pada umumnya cenderung
berpegang pada kerangka pengalaman dan kerangka rujukan yang lama, karena
dibangun dalam waktu yang lama dan tumbuh secara evolusi. Pengetahuan dan
pengalaman setiap orang itu disusun dan dikembangkan dari sedikit demi sedikit,
sangat lambat tetapi kuat. Maka itu LDK tentu perlu membentuk persepsi khusus
tentang organisasinya yang tidak sama dengan lembaga lain, bahkan tak sekedar
Rohis tingkat sekolah. Ldk perlu diperkenalkan sebagai lembaga intelektual,
mendukung segala aspek peminatan, dan bakat mahasiswa yang tak dikotomi oleh
simbol syar’i belaka. Melainkan sebuah bentuk kelompok yang menampung inspirasi
mahasiswa-i.
Dalam ilmu komunikasi dijelaskan bahwa sebuah pesan
diterima oleh individu dengan terlebih dahulu melakukan decoder lambang-lambang yang digunakan. Kemampuan melakukan decoder mad’u (komunikan) sangat
tergantung kepada pengetahuan dan pengalamanya. Demikian pula proses komuniaksi
meruapakan proses pemindahan ide atau gagasan, pada dasarnya menggunakan proses
berpikir yang juga diikat oleh dasar pengetahuan dan pengalaman. Kesalahan
besar yang biasa dilakukan oleh LDK ialah menganggap penting suatu hal yang
diyakini baik. Sedangkan mahasiswa justru tidak menganggap penting hal yang
diyakini baik tersebut. Hal ini tentu sangat disayangkan, karena yang
terpenting ialah menentukan bagaimana caranya hal yang kita yakini baik ini di
anggap penting oleh mahasiswa. Sehingga menghasilkan suatu keseimbangan
kebutuhan dan keinginan untuk mengikuti agenda Syiar dakwah.
Filter konseptual juga dipengaruhi oleh kondisi
fisik. Bahkan kondisi fisik sangat menentukan, karena dorongan, motivasi,
kebutuhan dan kepentuingan seseorang terhadap sesuatu akan bergantung pula pada
keadaan dan kebutuhan fisik atau jasmaniahnya. Demikian juga proses berfikir
hanya dapat berjalan normal, jika ditopang oleh kondisi fisik yang normal pula,
dimana seluruh panca indera dan alat-alat kerohanian lainnya berfungsi pula
secara normal dan wajar. Justru itu kondisi fisik juga sangat menentukan
kepentingan dan kebutuhan seseorang dalam berkomunikasi. Setiap individu sangat
peka sekali terhadap segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kepetingan dan
kebutuhannya sendiri. Maka perlu LDK memiliki sebuah tim media yang dapat
merancang pesan syiar dakwah yang bersifat informatif, edukatif, dan menghibur.
Dengan memanjakan indera perasa yang dimiliki oleh media atau event pemikat
dari LDK. Seperti menyajikan snack yang enak, tempat yang nyaman, desain yang
atraktif, penampilan aktivis nya yang menenangkan, pemateri yang menarik untuk
diajak berdiskusi dan open minded ,
dan lainnya. Karena jika indera kita terbuka dengan baik, maka pesan dakwah insyaAllah akan dapat diterima dengan efektif .
Selain kepentingan atau kebutuhaan yang bersifat
pribadi (personal needs) itu juga
manusia memiliki kebutuhan atau kepentingan sosial (social needs) sebagai makhluk sosial, yaitu antara lain kebutuhan
untuk tidak terasing dari lingkungan sosialnya, keinginan untuk di sukai dan
dihargai oleh orang lain atau keinginan diakui seobagai warga kelompok atau
warga masyarakat yang baik. Saya biasa menggunakan paradigma ini dalam
merancang opini bahwa ikut Rohis itu Kece. Kamu ikut Rohis ? wih kece lah teman gue . Artinya dengan
ikut Rohis, mahasiswa telah mendapatkan eksistensinya di alam pergaulan
akademik. Tak hanya diakui oleh rekan sesamanya, kader rohis juga diakui baik
oleh pengajar (dosen), pegawai universitas, bahkan Office Boy, satpam, hingga marbot sekalipun. Terlepas dari tanggung
jawab membawa masyarakat menemukan hidayahnya masing masing. Ataupun menggiring
mereka ke jalan kebaikan. Tetap saja, manusia membutuhkan pengakuan di
lingkungan sosialnya.
Dalam teori guna dan kepuasan (uses and gratification) dijelaskan antara lain bahwa seseorang
hanya bersedia melakukan dan melanjutkan komunikasi jika dalam komunikasi itu
termuat kegunaan dan kepentingan atau kebutuhan tersebut, atau baginya ada
harapan masa sekarang dan masa yang akan datang (expectation of reward).
Akhirnya kepentingan dan kebutuhan pribadi dan
kebutuhan sosial itu, pula yang memperkuat kehadiran filter konseptual, yang
kemudian melahirkan tindakan selektif seseorang terhadap segala pesan yang
menyentuhnya. Setiap individu akan memilih pesan yang paling menarik perhatiannya,
yaitu yang paling dekat dengan kebutuhannya. TIndakan selektif ini kemudian
melahirkan suatu hukum yang disebuth “hukum memilih siaran”. Wilbur Scharmm
(1960:3) mengajukan suatu rumusan yang mendekati matematika dengan sebutuan faction of selection atau pecahan
pilihan, yaitu :
Rumus tersebut menunjukkan bahwa khalayak
akan memilih suatu pesan berdasarkan perbandingaan antara hasil yang diharapkan
dengan usaha yang diperkukan darinya. Artinya seseorng akan memilih pesan yang
lebih banyak mendatangkan hasil daripada pengorbanan yang diperlukan. Dapat juga
berarti bahwa seseorang akan memilih suatu pesan karena hanya memerlukan
sedikit usaha untuk memperoleh suatu pesan tertentu. Misalnya seseorang lebih
suka membaca pesan dakwah melalui instagram di rumahnya daripada datang ke mading
masjid atau mading rohis/LDK. Tetapi kadang-kadang juga seseorang harus datang
ke tempat tablig akbar yang jauh, karena ada kebutuhan persona atau kebutuhan
sosial yang diharapkan. Seperti hadirnya tokoh yang di idolakan menjadi
pemateri acara tersebut. Rasa ingin tahu yang tinggi terhadap materi yang
disajikan. Atau justru Karena diajak oleh rekan sejawat dan menikmati proses
berjalan bersama.
Selain filter konseptual dipengaruhi oleh
faktor psikologi dan fisik, juga efek (atsar)
suatu dakwah sangat dipengaruhi oleh situasi ketika pesan itu dilontarkan
kepada mad’u (khalayak). Demikian juga
pengaruh kelompok dan peranan pemimpin pendapat (opinion leader). Sangat menentukan terjadinya suatu efek (atsar) dakwah. Opinion leader di kalangan mahasiswa biasanya memiliki karakter
beragam. Ada yang dikenal sebagai sosok yang jago retorika, sosok yang aktif di
sosmed, sosok yang memiliki paras menawan, memiliki bakat, prestasi dan
lainnya. Untuk menggiring para Opinion
Leader ini tentu harus dengan cara yang sesuai karakteristiknya. Menggiring
satu Opinion Leader akan berdampak
pada citra LDK pada mahasiswa sekitarnya, atau yang berkaitan dengan field of reference yang disebut diatas.
Nah, Perlu juga disadari bahwa dakwah, bukanlah
satu-satunya pesan yang menyentuh dan merangsang individu dalam saat tertentu. Dakwah
hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak rangsangan yang menyentuh
seseorang. Dengan banyaknya pesan yang menyentuh dan merangsang individu
sepanjang hari dan malam, maka kemudian setiaap individu menjadi tempat
pertarungan kekuatan rangsangan yang saling menggempur dan tarik menarik. Pada saat
yang sama filter konseptual berfungsi dan berperanan dalam menyaring semua
rangsangan pesan yang ada dan pada saatnya individu memberi reaksi, respons
atau jawaban, berupa sikap, opini atau perilaku.
Berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa
efek (atsar) suatu dakwah akan
merupakan resultante dari sejumlah kekuatan yang bertarung dalam diri individu
khalayak. Dengan demikian terjadinya efek (atsar)
mengalami pengaruh dari banyak faktor dalam diri khalayak. Hal ini berkaitan
juga dengan citra dan opini public yang
sudah terbentuk dalam lingkungan LDK tersebut.
*thanks udah baca artikel panjang ini ,, hehe
** mau nanya atau diskusi silahkan di tabel koment , jangan lupa share artikel ini kalau kamu suka.
*thanks udah baca artikel panjang ini ,, hehe
** mau nanya atau diskusi silahkan di tabel koment , jangan lupa share artikel ini kalau kamu suka.

Belum ada tanggapan untuk "AGENDA SYIAR DAN FILTER KONSEPTUAL"
Post a Comment