![]() |
| Kekuatan Media dari alat pencapaian kekuasaan ke pendukung kapitalis gambar : pexels |
Dalam studi media, ada tiga pendekatan untuk menjelaskan
isi media (Brian McNair, News &
Journalism in the UK: A Textbook : 39-58).
1. Pendekatan politik-ekonomi (the political-economy approach).
Pendekatan ini berpendapat bahwa isi media lebih
ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi di politik diluar pengelolaan media.
Faktor seperti pemilik media, modal, dan pendapatan media dianggap lebih
menentukan bagaimana wujud isi media.
Dalam pendekatan ini mekanisme produksi berita dillihat
sebagai bagian integral dari relasi ekonomi dalam struktur porduksi. Pola dan
jenis pemberitaan ditemukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi yang secara dominan
menguasai pemberitaan-pemberitaan. Artinya dalam produksi berita tersebut harus
dapat dipertimbangkan dari segi kepentingan ekonomi, kepentingan politik, dan
kepemilikan modal di balik sebuah media.
Pendekatan ini dipandang bukan sebagai entitas yang
aktif, dan ruang lingkup pekerjaan mereka dibatasi berbagai struktur yang
mau tidak mau memaksanya untuk
memberitakan fakta dengan cara tertentu. Pengelola media dipandang tidak bisa
mengekspresikan pandangan profesionalnya. Sebaliknya, kekuatan eksternal di
luar konteks pengelolaan medialah yang menentukan apa yang seharusnya
diwartakan dan diwacanakan.
2. Pendekatan organisasi (Organisational approaches).
Pendekatan organisasi justru melihat media sebagai pihak
yang aktif dalam proses pembentukan dan produksi berita. Praktek kerja secara
profesional dengan tata aturan organisasi yang menjalankan proses pemberitaan
sesuai dengan kode etik. Contoh, ketika media mengangkat seorang tokoh, bukan
karena adanya motif ekonomi, melainkan karena tokoh tersebut merupakan tokoh
yang memiliki nilai berita yang tinggi. Dengan kata lain, proses produksi
berita adalah mekanisme keredaksian semata, di mana setiap organisasi berita
mempunyai pola dan mekanisme tersendiri untuk memberitakan suatu peristiwa.
Mekanisme itu bersifat internal dan tidak ditentukan oleh kekuatan di luar diri
media. Media dianggap otonom dalam menentukan apa yang boleh atau tidak boleh,
apa yang baik atau buruk, dan apa yang layak atau tidak layak untuk
diberitakan.
3. Pendekatan kulturalis (culturalist approach).
Pendekatan ini merupakan gabungan antara pendekatan
ekonomi politik dan pendekatan organisasi.
Proses produk berita dilihat sebagai mekanisme yang melibatkan faktor
internal media sekaligus eksternal. Sehingga terdapat mekanisme rumit yang akan
menjadi perdebatan dalam redaksi. Perdebatan mengenai suatu wacana produksi
berita ini terinisiasi dari pihak yang berafiliasi dengan eksternal
(politik-ekonomi) dengan pihak yang fokus pada pendekatan organisasi
(profesional).
Hal yang biasa diperdebatkan dalam hal tersebut (Brian
McNair, an Introduction to Political
Communication, 1995: 56-60) ialah:
a. Krisis ekonomi dan politik
b. Kekuatan pemodal, ekonomi, atau partai politik.
Dalam pendekatan ekonomi
politik, pengaruh eksternal digambarkan bersifat langsung dan koersif. Kekuatan
pemodal, pengiklan, atau partai politik berpengaruh langsung dalam berbagai
bentuk larangan atau keharusan untuk menulis berita dengan cara dan konteks
tertentu. Dalam banyak asus, justru sering kali tidak disadari oleh wartawan.
Wartawan menganggap berita nya objektif, berimbang dan dua sisi. Padahal secara
tidak langsung berita itu ternyata untuk melanggengkan dan menguntungkan
kekuatan ekonomi politik (Brian McNair, An
Introduction to Political Communication, 1995: 56-60). Bahkan tak jarang
elit ekonomi dan atau elit politik justru bersaing menguasai media untuk
dijadikan alat kepentingannya.
Sebagai contoh simulasi
misalnya pada konflik antara petani dengan pemilik perkebunan dan pemerintah.
Wartawan lebih banyak mewawancarai pemilik perkebunan dan aparat keamanan
sebagai sumber berita. Secara tidak langsung, media sebenarnya telah
menempatkan pemilik tanah dan aparat keamanan sebagai sumber penting dan
dominan. Tanpa disadari, dengan mengembangkan pola pemberitaan seperti ini
mereka telah menempatkan pemilik perkebunan pada posisi yang lebih
menguntungkan. Sebaliknya, para petani tidak mendapatkan porsi yang memadai
dalam pemberitaan media. Di sini terlihat, dominasi pemilik perkebunan
(pemodal) dan aparat keamanan terhadap pihak media tidak bersifat langsung dan
koersif.
Sementara dalam pendekatan
organisasionalnya, kalangan elit itu murni dilihat sebagai sumber berita dalam
kerangka nilai-nilai jurnalistik dan dengan pertimbangan-pertimbangan
profesional. Pendekatan kulturalis meniscayakan terjadinya dua hal yang berbeda
itu. Ada hubungan yang rumit antara sumber berit dengan wartawan. Kedua-duanya
saling membutuhkan, tidak saling mengkooptasi secara langsung. Namun memang
pada akhirnya praktik jurnalistik melahirkan pemberitaan yang lebih dominan
pada kekuatan politik hegemoni. Tanpa disadari oleh wartawan, orientasi
pemberitaan mereka sebetulnya telah meminggirkan peran kelompok masyarakat
bawah (Jay G. Blummer dan Michael Gurevitch, The Crisis of Public Communication, 1995: 45-57). Hal ini karena sumber berita bukan sekedar
objek yang diwawancarai (seperti dalam konsep organisasional). Sumber berita
juga aktor yang turut mendefinisikan realitas. Dengan mewawancarai sumber
berita tertentu, pada dasarnya media memberi kesempatan kepada seorang aktor
untuk mendefinisikan realitas dengan cara dan konsepsi analisa pribadinya
(Ralph Negrine, Politics and the Mass
Media in Britain, 1994: 127-134).
Sebagai contoh pendekatan
kulturalis ialah pada pemberitaan media tentang konflik TNI vs GAM di Aceh.
Tanpa disadari oleh awak redaksinya, beberapa media memberi porsi yang besar
kepada pihak pemerintah dan TNI untuk mendefinisikan konflik Aceh menurut versi
mereka. Awak media mungkin telah berupaya untuk netral dan objektif, namun
keterbatasan akses ke pihak GAM tampaknya telah menggiring mereka pada
kecenderungan untuk mewawancarai sumber-sumber resmi yang siap dengan
klaim-klaim yang bisa saja sepihak. Dan dari sinilah sumber resmi pemerintah
kemudian mendominasi dari sumber versi Gam pada suatu isu media.

Belum ada tanggapan untuk "Kekuatan Media dari Alat Pencapaian Kekuasaan ke Pendukung Kapitalis"
Post a Comment