Iklan Ads

Pencitraan Merek Politik melalui Media Digital

Oleh : Ridho Azlam Ambo Asse
(Magister Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin Makassar)



Efektivitas penyampaian pesan-pesan politik untuk membangun citra dan reputasi disampaikan  melalui  beragam  media. Selama  ini  televisi  masih  menjadi  media yang  paling  populer  dalam  pencitraan merek. Salah satu taktik pencitraan merek yang  paling  populer  adalah  iklan  dan publikasi.  Seperti  diberitakan  tempo.com (13/06/2013), sepanjang tahun 2012 iklan televisi  masih  mendominasi  dibandingkan dengan media lain. 70% iklan dikuasai oleh televisi.  Begitu  juga  dengan  publikasi, seperti  dapat  dicermati  dalam  media televisi  kehadiran  publikasi  lembaga ataupun  tokoh  partai  sering  muncul  di televisi.  Memasuki  tahun  2013,  menurut kabarbisnis,  iklan  di  televisi  mulai  disalip oleh iklan di media internet.

Sumber: APJII,n.d
Gambar : Pengguna Internet Indonesia

Hal  ini  sangat  masuk  akal,  dengan pengguna internet yang mencapai 82 juta pada  tahun  2013  menjadi  potensi  besar untuk  memasarkan  produk  melalui pencitraan  dari  merek  dan  diprediksikan akan mencapai 102 juta pada tahun 2014 (APJII,  n.d).  Artinya  bahwa  baik  partai ataupun kandidat perseorangan yang akan mengikuti  kontestasi  politik  pada  tahun 2014  berpeluang  untuk  merebut  hati konstituennya  melalui  media  daring. Mantan  direktur  pemasaran  Coca  Cola dalam bukunya “The End of Marketing As We Know It” bahwa pemasaran tradisional memang tidak mati, tapi ia mati. Baginya, teknologi telah memberikan banyak pilihan produk  dan  pemasar  sendiri  perlu menemukan  cara  mendekati  pelanggan secara individual, atau kelompok-kelompok kecil dan lebih kecil (Meyers dan Gerstman. Ed. 2001).
Melalui  media  daring,  individu  atau lembaga peserta Pemilu dapat melakukan pencitraan  merek  daring.  Melalui  media daring,  calon  pemilih  bisa  menentukan mana  kandidat  yang  sesuai  dengan ekspektasinya di masa yang akan datang. Melalui bantuan teknologi, lembaga dapat menguatkan  merek dan  mempertahankan kekuasaannya.  Menurut  Breakenridge (2001),  ada  beberapa  hal  yang  dapat dikuatkan melalui pencitraan merek, yaitu menjaga  eksistensi  sejarahnya,  dapat berkembang  dari  waktu  ke  waktu, memengaruhi  pilihan  konsumen,  dimiliki tanpa  batas,  tidak  terjebak  dalam  isu budaya. Hal tersebut akan bertambah kuat jika  menggunakan  bantuan  teknologi. Bojana Fajarinc (Meyers dan Gerstman. Ed. 2001), mantan Direktur  Global Marketing Service  &  Brand  Management, Hewlet Package  menulis   bahwa  internet  telah melakukan  evolusi  secara  cepat  tentang konsep dasar merek.
Kegiatan  pencitraan  merek  di  dunia daring dengan dunia nyata harus konsisten dan seimbang seperti ditulis oleh Vivienne Lee  Bechtold,  Direktur  I-Knowledge yang diakui  oleh  publik  Amerika  sebagai Marketing  Interactive  of  the  year,“The  ebranding  opportunity  is  generally  best served when both online and offline assets are involved. The two parts work together to  reinforce  the  best  each  has  to  offer”. Seperti  apa  yang  dilakukan  oleh  Yahoo! pernah  menempati  posisi  tertinggi  dalam pencitraan merek pada tahun 2001 karena melakukan  kegiatan  pencitraan  merek secara  online sekaligus  offline juga amazon.com.  Dengan  penguasaan teknologi,  kemajuan  dan  perubahan berkembang  dengan  cepat.  Hal  serupa, lembaga  partai  atau  perseorangan kandidat,  tidak  hanya  akan  dinilai  dari perilaku yang terjadi di dunia daring, tetapi juga  dalam  kenyataan  hidupnya  seharihari. Melalui media daring, para kandidat melalukan  pencitraan.  Mereka  berupaya mengikat  para  konstituennya  dengan wacana, kegiatan, opini, ataupun sekedar bercengkrama dengan para konstituennya.
Dengan pengertian pencitraan merek di  atas,  upaya  pengikatan  emosional merupakan  upaya  melakukan  diferensiasi dan  positioning  kandidat.  Namun  secara praktis, apa saja yang dapat dilakukan oleh seorang  kandidat  atau  politisi  di  media daring? Berikut merupakan beberapa  tools berupa  aplikasi  media  daring  yang dijadikan  media  pencitraan  merek  oleh kandidat; email, media  sosial,  multi  user dimention,  dan  search  engine (Rustandi, 2013). Dari empat media yang ada, media sosial  merupakan  media  yang  paling populer  dijadikan  sebagai  sarana pencitraan oleh merek politik. Merek dalam konteks politik adalah kandidat sendiri.
Media  sosial  sendiri  terdiri  dari banyak  jenisnya;  Proyek  kolaborasi  wiki, corporate/ personal website, personal blog, microblog, media  konten,  situs  jejaring sosial,  virtual  game  world,  virtual  siciak world,  podcast, forum,  (Rustandi,  2013) juga  media  online  yang  menjadi  ruang publik atau lebih ke situs komunikasi satu arah.  Dari  beberapa  jenis  media  dalam jaringan  tersebut,  beberapa  di  antaranya sangat  dominan  dijadikan  media pencitraan  oleh  pemilik  merek  politik seperti  media  jejaring  sosial,  microblog, website dan  blog, media  konten,  serta media online.
Media jejaring sosial atau situs jejaring sosial  adalah  aplikasi  yang  dapat digunakan  seseorang  untuk  terhubung dengan  orang  lain  dengan  menggunakan profil  dengan  sebuah  akun  tertentu. Contohnya  adalah  facebook,  googleplus, myspace,  dan  lain-lain.  sedangkan microblog adalah bentuk  blog yang dapat memublikasikan  tulisan  dengan  dibatasi hanya 140 karakter yang lebih menyerupai Short Message Service(SMS). Contoh yang paling populer adalah  twitter. Website dan blog merupakan  kumpulan  dari  berbagai halaman (HTML/  Hyper  Text  Mark  Up Language)  yang  terdiri  dari  berbagai macam dan format file. Ia juga terdiri dari berbagai macam topik sesuai dengan selera dan  konsep  pemilik/  pembuatnya.  Situs berbasis  konten  adalah  sebuah  website atau  blog yang merupakan kumpulan dari beragam pengguna yang dapat menyimpan dan  berbagai  file, contohnya  seperti youtube,  flickr, kompasiana.  Sedangkan media  online adalah  media-media  arus utama yang berbadan hukum pers seperti kompas.com,  detik.com,  republika.com, dan lain-lain.
Untuk  melakukan  pencitraan  merek, para  politisi  menjaring  konstituen  melalui berbagai  jenis  media  sosial  yang  telah disebutkan.



Literasi Media Digital
Walaupun  bukan  sebuah  metode dalam penelitian, namun melalui kegiatan literasi,  penulis  dapat  melakukan  analisis bagaimana  kandidat  melakukan pencitraannya.  Melalui  kegiatan  literasi dapat  diketahui  sejauhmana,  seberapa besar peluang, sepositif apa citranya untuk meraih  dukungan  dari  massa  digital menjelang  Pemilu  2014.  Melalui  literasi media  digital  akan  didapat  kesimpulan siapa  yang  layak,  kuat,  atau  paling berpeluang. Apalagi memasuki tahun 2013, internet telah menjadi dunia yang memiliki massanya sendiri. Ia hidup berdampingan dengan  dunia  nyata.  Ia  bahkan  sudah menjadi dunia tersendiri.
Menurut   Basuki  (2013)  dalam makalahnya tentang “Literasi Informasi dan Literasi  Digital”,  mengatakan  bahwa, literasi  media  adalah  kemampuan seseorang  untuk  menggunakan  berbagai media  guna  mengakses,  analisis  serta menghasilkan  informasi  untuk  berbagai keperluan.  Menurutnya  literasi  media mencakup  3  bidang  yaitu  bermakna memiliki akses ke media, memahami media dan  menciptakan/mengekspresikan  diri sendiri dengan menggunakan media. Ia  menulis  dalam  makalahnya tersebut  bahwa  literasi  media  mencakup semuanya.  Dari  memiliki  pengetahuan yang  diperlukan  untuk  menggunakan teknologi  media  lama  dan  baru  sampai dengan memiliki hubungan kritis ke konten media. Melalui pendekatan itu pula penulis akan melakukan analisis. Di mana media digital  sudah  sangat  terbuka.  Pemikiranpemikiran  seseorang  dapat  ditemukan dengan  cukup  mudah  di  ruang-ruang virtual  tersebut.  Melalui  media  digital, semua informasi didapatkan dengan tanpa batas. Setiap orang juga dapat menjangkau massa  yang  tanpa  batas  pula.  Melalui kegiatan  penelusuran,  penulis  dapat membaca  strategi  bagaimana  para  bakal calon  presiden  tersebut  mengambil  hati para konstituennya.
Lebih spesifik ia menjelaskan tentang literasi  media  digital  sebagai  bagian  dari literasi  informasi  sebagai  kemampuan memahami  dan  menggunakan  informasi dalam  berbagai  format  dari  sejumlah sumber daya tatkala sumber daya tersebut disajikan melalui komputer. Sesuai dengan perkembangan,  pemakai  tidak memedulikan darimana asalnya informasi, yang penting dapat mengaksesnya. Untuk memahami  literasi  media  digital  baiknya mengetahui  komponen-komponen pendukungnya  yaitu:  (1)  tonggak pendukung berupa literasi itu sendiri dan literasi komputer, informasi, dan teknologi komunikasi;  (2)  pengetahuan  latar belakang yang terdiri dari dunia informasi dan  sifat  sumber  daya  informasi;  (3) kompetensi  yang  terdiri  dari:  (a) pemahaman format digital dan nondigital serta penciptaan, (b) komunikasi informasi digital, (c) evaluasi informasi, (d) perakitan pengetahuan, (e) literasi informasi, dan (f) literasi  media;  (4)  sikap  dan  perspektif berkaitan  dengan  landasan  etik  terhadap penggunaan  informasi  bahwa  akses  yang hampir  tidak  terbatas  pada  web diikuti dengan  pemahaman  jika  materi  yang diunduh tidak semua bebas dari hak cipta (Basuki, 2013). Literasi media digital ini diperlukan sebagai dasar utama baik kepada figur politik ataupun tim kampanye mereka dalam merancang strategi kampanye politik digital.

Media Jejaring Sosial
Kandidat  calon  presiden  melakukan komunikasi dengan para konsituen melalui media jejaring sosial. Mereka memiliki akun untuk berhubungan dengan konstituennya. Melakukan komunikasi melalui media sosial menjadi salah satu tahap awal bagaimana mereka  melakukan  pencitraan  mulai  dari melakukan  pengenalan,  pengalaman, mengambil keputusan, hingga pada tahap loyalitas.  Tahapan  ini  dapat  diawali  dari komunikasi intensif melalui media jejaring sosial.  Media  jejaring  sosial  yang  paling umum digunakan adalah  facebook, twitter, google+,  dan  youtube.  Mereka  rata-rata memiliki  akun  twitter,  Fanpage  facebook, akun  google,  serta  mengunggah  kegiatan melalui  youtube walaupun  tidak mengatasnamakan dirinya sendiri.
Walaupun  mereka  memiliki  sebuah pintu  untuk  menerima  tamunya  melalui jejaring  sosial,  tidak  semua  akun  atau fanpage dikelola  oleh  kandidat  ataupun teamnya.  Sebagian  besar  dibuat  oleh pengagum  dan  pendukungnya.  Beberapa figur politik seperti Joko Widodo, Dahlan Iskan dan Megawati halaman fansnya dibuat oleh mereka yang kagum  terhadap  sepak  terjang  mereka. Sementara yang lain dikelola oleh relawan dan  teamnya,  sementara  berdasarkan penelusuran penulis terdapat beberapa figur nasional yang  tidak  memiliki  akun  di  media jejaring sosial.
Sebuah akun jejaring sosial sejatinya digunakan  sebagai  sarana  membangun merek. Merek akan terbangun jika memiliki diferensiasi  dan  positioning seperti disampaikan oleh banyak pakar marketing. Tujuan akhir dari manajemen membangun merek  adalah  mengikat  hati  pelanggan melalui komunikasi intensif. Selain adanya intesifitas  komunikasi  dengan  pelanggan, komunikasi  dilakukan  dua  arah,  karena pada dasarnya sebuah merek bukan milik perusahaan  tetapi  juga  milik  masyarakat. Hal yang sangat disayangkan bila figur politik yang memiliki kapabilitas baik tidak memiliki kesadaran ke arah sana. Halaman fans  mereka  dan  juga  akun  twitter yang mereka miliki sebagian besar hanya untuk sosialisasi apa yang terjadi dengan mereka serta  menyebarkan  gagasan-gagasannya. Dengan  demikian  pola  komunikasi  dua arah tidak terjadi. Seperti dalam  fanpage Aburizal  Bakrie, Setya Novanto, Nurdin Abdullah,  dan lainnya walaupun  halaman  di facebook  tersebut  rutin  diperbaharui (update)  tetapi  dari  komentar  penulis telusuri,  yang  bersangkutan  tidak  pernah membalas komentar tersebut. Dengan kata lain media sosial figur yang digadang menjadi pilihan rakyat, pendengar aspirasi rakyat tersebut dominan satu arah.
Sementara  sosial media Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Lukman H. Saifuddin, Basuki Tjahaja Purnama, Mahfud MD, Susilo Bambang Yudhono tampil berbeda  dengan  sosial media figur politik lainnya ,  Sosial media mereka cukup aktif dalam berkomunikasi dengan fans/followersnya. Sedangkan figur besar yang tidak mengoptimasikan sama sekali dalam melakukan pencitraan melalui sosial media ialah Megawati Soekarno Putri. Meskipun Megawati tetap memiliki jaringan sosial media yang dibangun tapi tidak semasif dan optimal seperti figur lainnya yang tampak cerdas menjaring dan menyampaikan pesan kepada publik netizen.
Selain  memiliki  akun  resmi,  mereka juga memiliki akun-akun pasukannya yang digerakan  oleh  team atau  simpatisan. Percakapan  sosial media masing-masing  calon presiden  yang  diwacanakan  hampir dipenuhi  oleh  para  simpatisan  atau pasukannya di media jejaring sosial seperti pernah dilontarkan oleh Amin Rais sebagai Cybertroops.



DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Breakenridge,  Deirdre  .(2001).Cyberbranding, Brand Building in The Digital  Economy. United States of Amerika: Prentice Hall PTR.
Firmanzah. (2012).  Marketing Politik, Antara Pemahaman dan Realitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Kotler, Philip dkk. (2010). Marketing 3.0, Mulai dari Produk ke Pelanggan ke Human Spirit. Jakarta: Erlangga.
Meyers,  H.,  dan  Gerstman,  R.  (Ed).  (2001).  Branding  @  The  Digital  Age. New Yorks:Palgrave.
Nimmo,  Dan  .(2006).  Political  Communications  and  Public  Opinion  and  America (Penerjemah Tjun Surjaman). Bandung: Mizan.
Rustandi, Dudi .(2013). Modul Cyber Public Relations. Bandung: Politeknik Lp3i.
Wheleer,  Alena.  (2009).  Designing  Brand  Identity:  An  Essential  Guide  for  the  Entire Branding Team. New Jersey. John Wiley & Sons, Inc., Hoboken.
Wasesa, Agung Silih. (2011). Political Branding & Public Relations.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wasesa,  Agung Silih, dan Macnamara, J. (2010). Strategi Public Relations, Membangun Pencitraan  Berbiaya  Minimal  dengan  Hasil  Maksimal.  Jakarta:  Gramedia  Pustaka Utama.

Internet:
APJII.  (2013).  Grafik  Pengguna  Internet.  Tersedia  dalam <http://www.apjii.or.id/v2/upload/content/statistik/grafik-pengguna-internet.jpg> Diakses tanggal 05 Oktober 2013.
Basuki,  Sulistyo  .(2013).  Literasi  Informasi  dan  Literasi  Digital. Tersedia  dalam <http://sulistyobasuki.wordpress.com/2013/03/25/literasi-informasi-dan-literasidigital/>. Diakses tanggal 5 Januari 2018.
Kabarbisnis.com.  (2013).  Bisnis  iklan  media  internet  diramal  segera  lampaui  televisi. Tersedia dalam <http://kabarbisnis.com/read/2840662> Diakses tanggal 5 Januari 2018.
Tempo.co.  (2013).  Belanja  Iklan  TV  Terus  Naik.  Tersedia  dalam <http://www.tempo.co/read/news/2013/06/13/090487954/Belanja-Iklan-TV-TerusNaik> Diakses tanggal 05 Januari 2018.
 


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pencitraan Merek Politik melalui Media Digital"

Post a Comment