![]() |
| Logika Budaya Media |
Pada umumnya dalam media, jenis utama dari konten (berita, olahraga, drama, hiburan, iklan) juga mengikuti format terstandar yang berakar dari tradisi (dibuat oleh media atau diwariskan secara budaya), cara kerja, gagasan mengenai selera dan kesukaan khalayak, dan tekanan waktu dan ruang.
Gagasan ‘peristiwa media’ yang ditampilkan berasal dari teori logika media, gagasan ini memiliki relevansi yang nyata dengan model utama dari peliputan berita yang bentuk serta formatnya yang akrab diperkirakan memberi kerangka pada kategori peristiwa tertentu (Altheide, 1985). Logika media adalah bagaimana proses produksi media menghasilkan keuntungan dan bagaimanapun juga para pekerja media menyediakan konten didalam sebuah media dimana personil medianya yang memutuskan konten apa yang akan ditunjukkannya.
Konsep logika budaya media ini juga sangat berguna untuk mengidentifikasi pilihan produser media berdasarkan faktor yang mereka yakini akan meningkatkan perhatian dan kepuasan khalayaknya. Dalam logika media ini pun konten sangatlah penting.
Prinsip utama dalam logika media:
1. Kebaruan
2. Kedekatan
3. Tempo yang tinggi
4. Personalisasi
5. Singkat
6. Konflik
7. Dramatisasi
8. Orientasi pada pesohor
Model Alternatif dalam Pembuatan Keputusan
Ryan dan Peterson (1982) menggambarkan lima kerangka kerja utama untuk menjelaskan bagaimana suatu keputusan dibuat didalam pembuatan keputusan. Model pertama adalah jalur perkumpulan (assembly line) yang membandingkan proses produksi media kepada pabrik dengan semua keahlian dan keputusan dengan aturan prosedur yang jelas. Pada proses yang digunakan sama dengan cara pembuatan produk industri,beserta segenap keterampilan dan keputusan yang terkait dalam mekanisme proses tersebut.Semua itu tercangkup dalam aturan prosedur yang jelas.Karena produk budaya media,tentu saja berbeda dengan material,harus berbeda antara satu sama lainnya secara marjinal,maka hal ini mengakibatkan timbulnya produksi berlebihan (over production) pada setiap tahap.
Model kedua adalah keahlian dan kewirausahaan, beberapa orang yang kuat, yang memiliki reputasi mapan dalam menilai kemampuan dan menangani masalah, mengelolah segenap masukan para seniman, musikus, ahli teknik dan lainnya secara inovatif. Model seperti ini berlaku terutama diperusahaan film, tetapi juga cocok untuk perusahaan penerbitan yang para penyuntingnya merupakan tokoh kuat dan memiliki kewibawaan (Kharisma).
Model ketiga persetujuan dan formula, dalam model ini para anggota ‘dunia seni’ tertentu menyepakati suatu ‘resep’, yakni seperangkat prinsip yang berlaku luas dan mengandung pengarahan bagi para pekerja tentang cara menyatukan berbagai unsur untuk memproduksi karya dalam gaya tertentu.
Model keempat adalah citra khalayak dan konflik, kerangka pandangan model ini menilai proses produksi kreatif sebagai upaya menyelaraskan produksi dengan citra yang akan disenangi khalayak.Keputusan menyangkut citra itulah yang sangat penting dan dapat menimbulkan konflik dikalangan wiraswastawan kuat yang saling bersaing.
Model terakhir adalah citra produk, penciptaan citra produk adalah pembuatan karya yang memiliki kemungkinan terbesar untuk diterima oleh para pengambil keputusan pada tahap selanjutnya. Cara yang paling sering ditempuh ialah memproduksi karya yang sangat mirip dengan karya yang baru saja lolos dari penilaian para pengambil keputusan pada setiap tahap proses. Produk seperti itu secara komersial dianggap berhasil.
Artikel tentang Produksi Budaya Media blog ini, disadur dari buku Dennis McQuail, Mass Communication
Theory, 2010, London: Sage Publication.

Belum ada tanggapan untuk "PRODUKSI BUDAYA MEDIA: Logika Budaya Media"
Post a Comment