Gagasan komunikasi massa
merupakan salah satu gagasan yang menarik dan terbukti sangat ulet karena
sebagian besar berdasarkan pada hal yang dapat diamati dan masuk akal. Gagasan
ini memikili daya Tarik yang luas bagi mereka yang mencari keuntungan darinya
sebagai pengirim ataupun sebagai penerima. Gagasan ini adalah formulasi yang
nyaman bagi mereka yang mempelajarinya dan bagi mereka yang sangat kritis,
gagasan ini menyediakan rangkuman yang berguna atas apa yang secara esensial
salah dengan fenomena ini. Gagasan ini juga tidak mudah didefinisikan ulang
atau digantikan, bahkan jika banyak kondisi aslinya telah berubah dan banya
asumsi dasarnya yang diperselisihkan. Pada sebagian besar abad kedua puluh,
konsep dalam bentuk ini telah menjalankan pengaruh yang berlebihan terhadap gagasan
yang populer dan ahli mengenai pegaruh media massa. Konsep ini juga membentuk
arah dari penelitian media meskipun adanya bukti yang berulang yang melemahkan
pondasi di mana ia didasarkan serta keragu-raguan atas hipotesis mengenai
efeknya. Bahkan ketika gagasan ini hamper ditolak, ia muncul kembali dalam
bentuk yang diperbaiki, terutama mengikuti perintah dari Noelle-Neumann (1973),
yaitu kembali ke konsep media massa yang berkuasa.
Dari satu perspektif,
hipotesis umum dari komunikasi massa memainkan peranan yang berguna berdasarkan
fakta bahwa ia secara komprehensif diperselisihkan dan dibantah. Penelitian
yang dihasilkannya mengarah pada pemahaman yang lebih kokoh atas
prinsip-prinsip kunci yang mendasari komunikasi manusia, sebagaimana yang
dicatat dalam buku ini. Dalam hal ini, secara berulangkali kita diingatkan
bahwa kondisi efek (bagaimanapun didefinisikan) utamanya bergantung pada
struktur dan konteks sosial dan pada variable ciri penerimaan, alih-alih kepada
fakta penyiaran bahwa komunikasi antarpribadi seringkali lebih menarik atau
bahkan merupakan bentuk yang bersaing dan juga sumber pengaruh bahwa konsep
khalayak yang terdiri atas individu-individu yang terisolasi pada umumnya
merupakan ilusi dan bahwa konten media biasanya tidak memiliki tujuan yang
jelas bagi mereka yang menyebarkannya dan tidak memiliki makna yang tetap bagi
para penerimanya, sehingga umumnya tanpa ada efek yang melekat yang dapat
diprediksi. Hal-hal ini dan pelajaran telah dipelajari cukup banyak meskipun
masih ada pendukung varian teori komunikasi massa dan tidak ada keraguan bahwa
sesuatu, seperti proses efek yang dapat diprediksi terjadi dalam beberapa
keadaan. Hal ini berlaku terutama pada agenda-settingpembelajaran
berita dan pembentukan opini dalam situasi krisis dan saat terjadinya emosi
kolektif serta perayaan. Hal-hal ini bukanlah pengecualian yang kecil. Tidak
ada keraguan pula bahwa teori dalam ringkasan umum masih sangat dihargai di
hati para pengiklan dan propagandis.
Meskipun demikian,
sekarang hal ini telah menjadi biasa untuk menyebut matinya komunikasi massa
dalam landasan yang objektif. Tren dalam arah ini bermula sejak akhir tahun
1960-an, ketika menjadi jelas bahwa pondasi teknologi atas konsep mengalami
perubahan. Rangkaian inovasi yang dimulai dengantelevisi kabel local,
penggunaan satelit untuk penyiaran dan ketersediaan yang luas dari alat rekaman
personal dan konten yang disiarkan mulai melemahkan bangunan besar dari
transmisi publik yang sangat terpusat. Tren ini dipercepat ketika pertanda awal
dari Internet muncul pada tahun 1980-an dan bahkan lebih lagi setelah
pengenalan Web pada pertengahan tahun 1990-an. Saat ini, rangkaian dan lingkup
internet yang sangat luas Nampak menantang hamper semua elemen dari jenis ideal
komunikasi massa. Internet memungkinkan dan mendorong komunikasi yang bentuknya
bukan pusat-periferi, tetapi berjaringan bentuk baru komunikasi adalah dua arah
dan interaktif, horizontal sebagaimanapun vertical, terhubung bukan terisolasi,
tidak lagi dimonopoli oleh professional, kontennya sangat beragam, tunduk
kepada sedikit kontrol social, kurang bersifat kelembagaan dan jenis serta
arahnya tidak menentu.
Beda perubahan yang
masih terjadi, nampaknya mengarah pada kolapsnya paradigm lama yang dilindungi
pada titik awalnya dalam sketsa dari Bordewijk dan Van Kaam (1986) mengenai
pola utama dari arus informasi yang aslinya merujuk pada telekomunikasi. Versi
lain mengenai pola komunikasi massa yang asli atas hubungan langsung dari satu
ke banyak hubungan (allocation) dilengkapi oleh tiga lainnya : satu dari
perbincangan (konektivitas universal yang disediakan oleh internet), satu dari
konsultasi (penggunaan umum dari mesin pencari internet dan lain sebagainya,
dan satu dari registrasi (internet sebagai pengumpul data pusat mengenai
penggunaan dan pengguna sistem). Peta dari pola komunikasi yang mungkin ini
adalah pengingat bagi status tambahan dari fungsi komunikasi massa dalam
spectrum total dari komunikasi yang termediasi. Ini juga merupakan pengingat
bahwa pola komunikasi tidaklah sesuai dengan media tertentu atau bahkan bentuk
dominan mereka. Jenis lama dari media massa (bahkan televisi) telah
mengembangkan kemungkinan konsultasi dan perbincangan, dan media dari
konsultatif yang lebih baru semakin banyak digunakan untuk penyiaran. Telepon, media
perbincangan yang sebelumnya dominan telah bergabung dalam perluasan potensi
ini. Proses-proses ini merupakan bagian dari proses konvergensi yang lebih
besar yang dimungkinkan dengan adanya digitalisasi. Hal yang tidak diragukan
dalam beberapa hal adalah media massa tradisional semakin menurun, bahkan jika
mereka sedang berubah dan masih berkembang dalam beberapa hal.
Ada jumlah besar
persetujuan bahwa surat kabar fisik telah melewati titik tertinggi dalam hal
sirkulasi di dunia yang secara ekonomis mapan, sebagaimana diukur melalui
sirkulasi dan jumlah pembaca (readership) dan barangkali dalm hal pembagian
pendapatan iklan (share). Akan tetapi, masih ada pertumbuhan di Negara-negara
berkembang, terdapat bentuk-bentuk baru surat kabar yang tidak terlalu berbeda
dan status kelembagaan dari surat kabar (pers) dalam kaitannya dengan politik,
ekonomi dan hubungan internasional yang nampaknya tidak berbeda dari yang ada
di masa lalu. Televise yang paling langsung terpengaruh oleh media audiovisual
alternative yang baru (internet), telah berkurang dalam beberapa hal, terutama
dalam kehilangan posisi dominan dalam khalayak melalui sejumlah kecil saluran
nasional. Internet secara berangsur-angsur menjadi bentuk penyiaran berdasarkan
permintaan yang baru dan media lain menjadi berkewajiban untuk beradaptasi
dengan kemungkinan penyiaran yang baru. Semua media yang lama harus
beradaaptasi kepada pasar dan model bisnis yang baru.
Daftar pustaka
Berger, Charles R, Michael E. Rorloff, dan David
R.Roskos-Ewoldsen. 2015. Handbook Ilmu
Komunikasi. Terjemahan oleh Derta Sri
Widowartie. Bandung : Nusa Media
Daryanto, Muljo Rahardjo. 2016 .Teori Komunikasi. Yogyakarta : Gava Media
Framanik, Naniek Afrilia. 2013. Media dan Masyarakat dalam Struktural Sosial : Meninjau Konsep
Denis Mcquail. Vol V No.3
STRUKTURAL-SOSIAL-MENINJAU-KONSEP-DENIS-MCQUAIL.pdf
Fleur de Melvin dkk. 1989. The Theories of Mass Communicationn.
Mc, Quail. 2010. Teori
Komunikasi Massa. Jakarta : Salemba Humanika (buku 1)
…………….. 2010. Teori
Komunikasi Massa. Jakarta : Salwmba Humanika (buku 2)
Unde, Andi Alimuddin. 2015. Televisi dan Masyarakat Pluralistik. Jakarta : Prenada
Media Group
Sumber lainnya :
tanggal 26 desember 2016 pukul 13.28)
para-ahli.html (diakses pada tanggal 27 desember
2016 pukul 00.25)
Belum ada tanggapan untuk "Akhir dari Komunikasi "
Post a Comment