Iklan Ads

Konsekuensi media baru bagi Komunikasi Massa


Media baru telah muncul sebagai hasil dari inovasi teknologi yang sering kali dicirikan dengan cara yang memisahkan mereka dari media massa yang lama, tetapi teori massa yang telah muncul belumlah menjadi panduan yang baik atas realitas media. Masih belum jelas seberapa banyak media akan beradaptasi atau bergabung. Seperangkat kemungkinan komunikasi yang sangat beragam yang terus menerus berkembang melalui basis uji coba (trial and error) di pasar media. Barangkali tidak ada logika yang hebat yang dihasilkan. Bagaimanapun, ada logika tertentu pada titik perbandingan yang mereka tawarkan kepada tipe ideal. Mereka bersifat multi-arah, bukan hanya searah. Mereka mendorong, bahkan mensyaratkan respons. Mereka tidak memiliki khalayak, sehingga tidak ada publik massa. Mereka sangat beragam dalam bentuk dan kontennya, dan esensinya adalah multi media dan multi model. Tidak ada batasan yang jelas antara privat dan publik. Mereka memungkinkan akses kepada semua dan Nampak menghindari struktur control. Mereka menghindari sifat kelembagaan, tetapi sebagaimana yang tersirat mereka tidak menawarkan model yang koheren dari sistem komunikasi publik, hanya ada kemungkinan yang tidak terbatas.
Pengamatan-pengamatan ini, semua dalam berbagai tingkatan yang sah, memunculkan retorika yang optimistic dan juga berlawanan. Dalam kondisi tanpa tujuan, terlihat bahwa proposisi utama dari teori massa dapat diterapkan atau dibalik untuk kondisi media yang baru, tanpa menciptakan teori baru. Konsekuensi potensial dari media digital dapat diungkapkan dengan cara yang merendahkan elemen inti dari teori komunikasi massa :
§  Kekuatan komunikator untuk mempersuasi atau memberikan informasi secara selektif telah banyak berkurang oleh ketidakmampuan untuk menjangkau khalayak yang luas dan terikat (captive) dan oleh ketersediaan sumber gagasan dan pengetahuan alternative.
§  Individu tidak lagi dibatasi oleh kelompok sosial dan lingkungan mereka yang terdekat dan oleh kemampuan fisik dari saluran media yang sedikit yang dikendalikan oleh otoritas dan agen lainnya. Mereka dapat masuk ke dalam kelompok dan komunitas baru lintas ruang
§  Tidak ada lagi sistem pesan uniter di mana orang-orang terekspos secara rutin dan konsisten, mengarah pada stereotip dan penerapan nilai-nilai konsensual
§  Individu dapat menjawab balik kepada figur otoritas atau menghapuskan kontak. Mereka dapat juga berpartisipasi secara aktif dalam pertukaran informasi dan opini dalam konteks isu-isu social dan politik yang penting.
Proposisi-proposisi tersebut dan yang serupa telah menjadi dasar untuk semakin meningkatnya jumlah pengetahuan dan teori baru. Mereka cenderung merujuk pada keuntungan potensial dan menghindari batasan media massa, sehingga secara seimbang masa depannya optimis. Bagaimanapun, secara setara masuk akal untuk mengaajukan kurang lebih fitur baru yang serupa dari media yang dapat menjadi dan digunakan untuk mengubah dan menguatkan proses komunikasi massa sebagaimana yang kita ketahui di masa lalu. Hal ini terjadi ketika mereka dijajah oleh media massa dan dianggap hanya sebagai alat penyiaran yang baru dan lebih efektif. Hal ini terjadi ketika ciri interaktif, partisipatif dan jaringan dari media baru disatukan ke dalam proyek besar publisitas dan penyampaian produk media gaya lama di bawah kepemilikan yang bersifat oligopoly. Media baru khususnya efektif dalam mengikat penggemar dan pengikut dari sumber media dan untuk melakukan umpan balik informasi yang diterapkan kepada penyasaran yang jauh lebih efektif atas subkelompok yang sangat tersegmen dalam publik yang relevan (Crogan, 2008). Mereka adalah pengingat atas perbedaan antara bom pintar yang seharusnya mengenai satu bangunan saja dengan bom yang meledak secara acak seabad lalu. Jauh lebih baik untuk tidak dibom sama sekali. Pada praktiknya, ada sejumlah cara yang berbeda dimana proses yang kurang lebih sama diwakili oleh model industrial lama, hanya saja jauh lebih efektif, dapat direplikasi oleh kombinasi media lama dan media baru, mengingat kemungkinan dari menyatukan kebutuhan manusia sangat besar dan desakan terhadap pengalaman kolektif serta kesenangan.
Fakta atas kurangnya peraturan dan bahkan pengaturan sendiri adalah akar dari beberapa ketakutan yang nampaknya mengekspos kelompok yang dan individu yang rentan kepada resiko dan eksploitasi. Bahkan jika digunakan secara benar, internet Nampak pada dasarnya bersifat individualis daripada partisipatif meskipun adanya janji akan konektifitas. Media baru cenderung mengarah pada kebalikan dari tren yang relative setara dari media tradisional, terutama televisi. Mereka tidak segera tersedia untuk tujuan publik atau social bersama, di mana hal ini mungkin diinginkan dan tidak bertanggung jawab kepada masyarakat. Kurangnya profesionalisme mungkin membuka akses, tetapi juga berarti standar yang lebih rendah atas informasi dan budaya.
Sementara dengan komunikasi massa di masa lalu, kita dapat memilih pandangan yang lebih optimis atau pesimis atas konsekuensi media baru. Kita masih kekurangan dukungan bukti yang jernih baik terhadap keuntungan atau kerugian komunikasi baru dan sepertinya sulit untuk keseimbangan umum semacam itu dapat terjadi, sebagaimana pula dengan sebagian besar pengalaman kita atas media massa yang sesungghunya di abad kedua puluh. Kerangka analisis yag bergantung pada keyakinan yang disederhanakan mengenai masyarakat dan spekulasi mengenai konsekuensi potensial dari teknologi tidak akan membawa kita terlalu jauh.
Akan tetapi, kita telah dapat mengenali keberlanjutan dari komunikasi massa sebagai sebuah proses setingkat masyarakat dalam bentuk baru yang terbuat dari jaringan yang jauh lebih baik dan rapi dari jalur dan hubungan yang memiliki karakter organik alih-alih dibentuk dan dikendalikan oleh sedikit orang demi tujuan mereka sendiri. Komunikasi massa dalam pengertian aslinya masih sama jika kita memikirkannya sebagai sumber tunggal yang terpusat yang kemudian diterima oleh khalayak yang besar dan didekasikan untuk penguatan dan penyebaran secara maksimal. Konsep ini masih bertahan utamanya karena pengaturan kehidupan social tidak dapat disediakan dengan peran, orang, institusi yang dipilih sebagai fokus perhatian oleh publik yang tersebar dengan atribut status, kekuasaan, keahlian atau kualitas lainnya. Secara serupa peristiwa penting, tempat, budaya dan beragam objek perhatian datang tidak terhindarkan untuk diberikan peringkat menurut kepentingan dan signifikansi dan dicari dalam berbagai tingkatan oleh atau diperhatikan publik yang lebih luas.



Daftar pustaka


Berger, Charles R, Michael E. Rorloff, dan David R.Roskos-Ewoldsen. 2015. Handbook Ilmu
Komunikasi. Terjemahan oleh Derta Sri Widowartie. Bandung : Nusa Media
Daryanto, Muljo Rahardjo. 2016 .Teori Komunikasi. Yogyakarta : Gava Media
Framanik, Naniek Afrilia. 2013. Media dan Masyarakat dalam Struktural Sosial : Meninjau Konsep
Denis Mcquail. Vol V No.3
              STRUKTURAL-SOSIAL-MENINJAU-KONSEP-DENIS-MCQUAIL.pdf
Fleur de Melvin dkk. 1989. The Theories of Mass Communicationn.
Mc, Quail. 2010. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Salemba Humanika (buku 1)
…………….. 2010. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Salwmba Humanika (buku 2)
Unde, Andi Alimuddin. 2015. Televisi dan Masyarakat Pluralistik. Jakarta : Prenada
               Media Group

Sumber lainnya :
tanggal 26 desember 2016 pukul 13.28)
para-ahli.html (diakses pada tanggal 27 desember 2016 pukul 00.25)
 

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Konsekuensi media baru bagi Komunikasi Massa"

Post a Comment