Iklan Ads

Referensi Hoaks

 Semua orang memiliki kemampuan ini dalam tingkatan tertentu. Kebutuhan informasi seseorang tidak serta merta memengaruhi peningkatan kemampuan literasi seseorang secara linier. Sconul 7Pillarsmenjadi model literasi informasi yang dapat menggambarkan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan informasi. Pertama, pemahaman kebutuhan informasi. Kedua, pengenalan jenis
informasi, karakteristik, dan tantangan untuk memperoleh informasi. Ketiga, penentuan strategi pencarian dan kata kunci informasi. Keempat, setiap jenis informasi mampu dicari dan diakses. Kelima, kemampuan mengevaluasi relevansi dan akurasi informasi. Keenam, pengelolaan pengutipan dan
penyusunan  bibliografi,  serta  penggunaan informasi secara etis. Ketujuh, penyajian produk informasi dalam bentuk yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan khalayak (Sconul, 2011, h. 13).

Internet dimanfaatkan sebagai media untuk menjalin beragam hubungan sosial dengan orang lain. Berbagai cerita, pengalaman, keprihatinan, dan kepentingan dapat dibagikan melalui hubungan tersebut. Fenomena ini menghasilkan sebuah terminologi baru dalam masyarakat virtual, yaitu komunitas online (Basuki, Akbar, Pradono, & Miharja, 2013, h. 69). 

Komunitas onlinemudah terbentuk sesuai minat dan kepentingan masyarakat karena ditunjang kemudahan akses beragam aplikasi internet. Jenis dan anggota dari kelompok onlinepun tidak terbatas. Hummel dan  Lechner  (2002,  h.  3)  mendefinisikan komunitas onlinesebagai suatu kolektivitas dengan besaran anggota tidak menentu dan memungkinkan setiap orang yang memiliki tujuan yang sama dapat bergabung secara sukarela. Tujuan utama dari komunitas onlineadalah berbagi pengalaman dan pengetahuan. Setiap anggota komunitas dapat saling berinteraksi dan berkontribusi untuk memperoleh kesejahteraan kolektif.

Maslow (dalam Slife & Williams, 1995, h. 7) menjelaskan bahwa kuat lemahnya sebuah struktur komunitas online sangat dipengaruhi oleh komitmen para anggotanya. Umumnya aktivitas yang dilakukan adalah saling berhubungan berdasarkan kepentingan untuk bertukar pengetahuan dan informasi. Hummel dan Lechner (2002, h. 2) membagi komunitas online menjadi empat bagian besar, yaitu komunitas permainan, komunitas minat, komunitas antarkonsumen, dan komunitas antarbisnis. Seseorang tidak harus bertemu lebih dahulu untuk beraktivitas dalam komunitas  onlinekarena urusan dapat diselesaikan tanpa harus bertemu langsung.

Komunitas onlinedapat digunakan menjadi media penyebaran hoaks baik di media sosial maupun di  instant messanging. Sebaliknya, komunitas onlinebisa pula digunakan sebagai sarana literasi informasi
bagi anggotanya untuk melawan hoaks.Chen, Yong, dan Ishak (2014, h. 441) mendefinisikan  hoaks  sebagai  informasi yang sesat dan berbahaya. Persepsi manusia dapat disesatkan oleh hoaks yang
disampaikan sebagai sebuah informasi yang dianggap benar dan hal tersebut dapat memengaruhi orang banyak.

Menurut Mastel (2017, h. 17), peredaran hoaks paling banyak adalah melalui media sosial. Van Dijk (dalam Nasrullah, 2015, h. 11) memberikan pengertian tentang media sosial sebagai media yang memberikan fasilitas kepada penggunanya untuk eksis melakukan aktivitas dan berkolaborasi secara online. Tujuan media sosial adalah menguatkan hubungan ikatan sosial di antara pengguna. Menurut Meike dan Young (dalam Nasrullah, 2015, h. 11), media sosial dianggap sebagai media untuk berbagi sesama pengguna. Sedangkan menurut Boyd (dalam Nasrullah, 2015, h. 11), media sosial menjadi kekuatan pengguna yang dapat menciptakan konten sendiri. Hal ini biasa disebut dengan user
generated content.

Seluruh kerangka konsep di atas menunjukkan bahwa dalam proses interaksi yang terjadi dalam komunitas  online Indonesia Hoaxes (di fanpagemedia sosial Facebook), literasi informasi berusaha
dibangun oleh sesama anggota komunitas. Hal ini dikaji dari isi komunikasi dalam komunitas online Indonesia Hoaxes ini (Christianty Juditha, 2019, h.82). 

Referensi :

Basuki, Y., Akbar, R., Pradono, & Miharja, M. (2013). Komunitas  online: Pergeseran terminologi
komunitas dari geddesian menuju era informasi dalam konteks perencanaan transportasi perkotaan. Jurnal Tata Loka, 15(1), 63-75.

Chen, Y. Y., Yong, S-P., & Ishak, A. (2014). Email hoaxdetection system using levenshtein
distance method. Journal of Computers, 2(9), 441-446

Christianty Juditha. (2019). Literasi Informasi Melawan Hoaks Bidang Kesehatan di Komunitas Online. Jurnal Komunikasi. Jakarta: Puslitbang Aplikasi Informatika dan Komunikasi Publik Kementrian Komunikasi dan Informartika RI. 77-90

Hummel, J., & Lechner, U. (2002). Social profiles of virtual communities. Proceedings of the 35th
Hawaii International Conference on Systems Sciences.<https://www.computer.org/csdl/proceedings/hicss/2002/1435/07/14350172b.pdf> 

Mastel. (2017). Hasil survey mastel tentang wabah hoaxnasional. Mastel.id. < https://mastel.
id/infografis-hasil-survey-mastel-tentangwabah-hoax-nasional/>

Nasrullah, R. (2015). Teori dan riset media siber (cybermedia). Jakarta, Indonesia: Kencana Prenadamedia Group.

Sconul. (2011). The sconul 7 pillars of information literacy: Core model for higher education.
Sconul.ac.uk. <http://www.sconul.ac.uk/sites/default/files/documents/coremodel.pdf>

Slife, B. D., & Williams, R. N. (1995). What’s behind the research? Discovering hidden assumptions
in the behavioral sciences. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications.  


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Referensi Hoaks"

Post a Comment